Minggu, 27 Maret 2011

Seribu Kota (terjemahan Indonesia)

Seribu kota telah aku lewati
Seribu hati sudah aku tanya
Tapi semua tak tahu
Kemana perginya kamu

Berapa tahun aku mencarimu
Sayangnya, belum bisa menemukanmu

Sudah ku coba untuk melupakan
Namamu dari hatiku
Tapi sebenarnya
Aku gak bisa berdusta
Jika masih sayang kamu

Seandainya kamu sudah bahagia
Rela aku rela
Tapi satu permintaanku
Temui aku

Walaupun cuma sebentar
Untuk melepaskan rindu di dada

Pengarang asli : Didi Kempot
Judul asli : Sewu Kutho

Malam Senin

Besok adalah hari paling malas sedunia sodara-sodara, sekian dan terima pacar.

Kamis, 24 Maret 2011

Untitled

Jika Sheila on 7 berkata dalam lagunya yang berjudul Ingin Pulang

"Saat saat seperti ini
Pintu tlah terkunci
Lampu tlah mati
Ku ingin pulang
Tuk segera berjumpa denganmu"

Maka aku ingin berkata yang sebaliknya
Aku ingin pergi ke tempat yg jauh
Mengulang segala sesuatunya dengan baik.

Tidak seperti saat ini
Tidak seperti saat lalu.

Kemana?
Tempat itu masih aku cari.
Hati yang baru.

Aku?

Dulu dia datang..
Memabukkan aku

Dulu dia tersenyum..
Membahagiakan aku

Dulu dia tersenyum..
Menenangkan aku


Kini, dia pergi..
Menghancurkan aku

Kini dia hilang..
Menjatuhkan aku

Kini dia lupa..
Siapa aku

Aku?

Aku pun, sudah meninggalkan aku yg dulu.

Berawal dari Kabut Pink

Entah kenapa, baru kali ini aku mengenal seseorang yang baru beberapa jam mengenalku, kami langsung nyambung. Apa mungkin kami adalah saudara yang terpisah? (oke, stop, ini lebay).

Di dunia ini, segala sesuatunya gak bisa di tebak, mulai dari sifat, gaya bicara, jalan berpikir, dan juga umur apalagi jodoh! (ini apa aku kok tiba2 ngomong jodoh? Pacar aja gak punya).

Kalo si @ekaotto punya slogan 'Its all good, no drama'
aku juga punya slogan 'its all good, behind the pinky fog' *nyambung gak?*
Yang pasti, semuanya berawal dari kabut pink.


PS: if you don't understand about this, don't be kepo-kepo

Selasa, 15 Maret 2011

Dia dan Selalu Dia Datang

Jika di dunia ini ada orang tolol ang belum bisa melupakan masa lalunya dengan sempurna, mungkin orang itu adalah aku. Iya, aku. Kenapa? Aku berusaha untuk melupakan nya, menjauhkan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Apapun itu. Sekecil apapun, aku menyingkirkannya. Demi, melupakannya.

Sekarang, jam 01.05 AM aku terdiam didepan laptop. Lagu Sheila on 7 berjudul Mantan Kekasih.

Mantan kekasih yang hilang datang
Ungkapkan besarnya penyesalan
Bagaimana dia, menghancurkan aku
Percayalah, kau tak aku sesali.

Awan hitam, menghantui langkahmu
Bagaimana mungkin jika itu pilihanmu
Disini tak lagi jadi rumahmu

Relakanlah semua
Berakhirlah sudah
Dan biarkan bintang
Menuntunmu pulang

Itu lirik lagu yang sedang aku nyanyikan berulang ulang ini.
Aku berharap aku bisa menyanyikan lagu itu. Lagu dimana aku bisa merelakannya dan 'menyuruhnya' untuk pulang.
Tapi, lagu itu hanyalah akan menjadi lagu dan dia tak akan ingin kembali padaku.

Jalan keluar? Melupakannya?
Bagaimana aku bisa melupakannya jika dia setiap seminggu minimal satu kali muncul di mimpiku. Apa aku harus mencintai seseorang yang lain baru aku bisa melupakannya? Iya kalo bisa. Kalo enggak? Gawat.

Semua butuh waktu, waktu buat melupakannya, waktu untuk menetralkan hati ini.

Tapi, walaupun aku belum bisa melupakan dia secara sempurna sekarang, setidaknya jika nanti aku sudah bisa, aku pasti siap menempuh jalan yang baru, bersama wanita pilihanku.

Sent from my iPhone

Jam Tangan, Perhiasan Pria

Hari ini, hari Selasa. Hari yang baik untuk melakukan sesuatu yang baru pikirku. Tapi apa ya? Sesuatu yang baru, sesuatu yang sebelumnya tidak aku pikirkan dan tidak aku perhatikan dengan baik. Hm, kemudian aku melihat jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 11.38 AM. Yah, sudah siang. Aku terdiam, kembali melihat jam dan berpikir 'oh iya, aku kan pingin punya jam tangan baru' yah, segampang pikiranku terucap seperti itu, padahal keuangan sedang susah. Yah, keuanganku bulan ini sangat tertekan.

'Dipta, ayo kita lihat-lihat jam' kataku pada Dipta dari depan rumahnya. Kemudian aku menyuruhnya memakai sepatu. Kenapa pakai sepatu? Iya, untuk memberikan kesan sopan dan berkelas ketika kami masuk ke sebuah toko arloji berkelas.

Sampailah kami pada toko yang di judulkan TIME PALACE. Dengan balutan karpet dan sekalilinh warna emas, sudah jelas terlihat bahwa itu bukan tempat sembarangan yang bisa dimasuki oleh seorang mahasiswa gembel seperti aku.

Rolex, adalah jam yang pertama aku tanyakan. Yah, aku kenal jam tangan bermerek Rolex dari mendiang Ayahku. Maklum, Ayahku suka dengan 'kekaleman' dari jam tersebut. Dan memang bagus kualitasnya. Bagus juga harganya.

85 juta. Adalah jawaban dari pertanyaan 'berapa harga jam Rolex GMT MASTER II ini?' sungguh jawaban yang lembut namun menusuk. Menusuk dompet. Yah, sebenarnya tidak kaget, tapi dengan posisi hanya membawa yang 75ribu di dompet dan di berikan jawaban seperti itu, layaknya seseorang pengemis di suruh membeli sebuah mobil. GILA. Mahal.

Kemudian, langkah kami menuju stan Tag-Heuer, sebuah merek jam terkemuka. Seperti Rolex, Tag-Heuer juga mahal!! Sepertinya jam jam yang ada di Time Palaca bukanlah jam yang cocok untuk kami (baca: dompet). Kami hanya bisa melihat dan memegangnya untuk sebentar. Untuk mencoba di pergelangan tangan aja sungkan. Takut kulit kami yang kotor menodai jam tersebut (ini sepertinya alay).

Lalu, Dipta dan aku keluar dan mencari jam yang 'masuk' dalam hitungan dompet kami. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Delta Plaza dan masuk ke toko arloji bermerek SEIKO.

Sekedar melihat lihat, banyak jenis yang ada di toko itu, mulai yang harganya 1 juta sampai paling mahal 26 juta. Cukup masuk akal kan daripada Time Palace yang memberikan harga untuk sebuah arloji sama dengan harga sebuah motor Ninja 250R. Mending beli motor, besar, bisa di naikin, bisa di nikmati berdua sama pacar. Kalo punya pacar sih.

Oke, setelah memiliah milah mana yang bagus, aku terpaku pada sebuah jam SEIKO jenis classic. Yah, jam yang indah, si balut dengan pergelangan kulit, mekanik, dan pengaturan jam serta tanggal yang otomatis. Harganya? 5.380.000 rupiah. Sungguh masuk akal dan iya aku jatuh cinta dengan jam tersebut. Pingin beli, tapi hanya dengan uang 75 ribu sepertinya mustahil. Akhirnya, aku mengurungkan niat untuk membeli dan menunggu uang terkumpul atau bila ada kemujuran, Ibuku akan membelikannya untukku (sungguh, untuk ini, aku berkata AMIN)

Bagiku, jam tangan adalah perhiasan laki-laki dan akan selamanya bagus. Tidak akan pudar oleh waktu. Secanggih-canggihnya jam tangan, kita hanya akan melihatnya semala 3 detik, hanya untuk melihat jam berapakah saat itu. Nothing more and nothing less.

Ketika sampai rumah, aku tersadar. Jika kita menjadi jam tangan, seindah apapun, walaupun kita melekat di tangan pemilik kita. Kita hanyalah di liat sejenak, kemudian di lupakan. Seperti aku, yang dilupakan oleh nya.


Tertanda,
Arya Duta Padma

Selasa, 01 Februari 2011

Well, Arthur still love Summer.

Thanks to niken saraswati for the fucking picture. (bener gak nih namanya?)

Sent from my iPhone

Selasa, 25 Januari 2011

Sunsets

Taken at Tunjungan Plaza Parking Lot.

Sent from my iPhone

Senin, 24 Januari 2011

"May I miss something?"

Sent from my iPhone

Kamera kini adalah barang pasaran. Dulu?

Ada seorang anak SMA melihat temannya menenteng kamera berjenis DSLR. Si bocah tersebut lantas bertanya kepada temannya, buat apa membeli kamera yang mahal? Apa gak cukup dengan kamera poket? Pertanyaan itu dilontarkan dengan tegasnya. Lalu, temannya itu si empunya kamera DSLR dengan tenangnya memperlihatkan hasil foto nya. Si bocah SMA tadi sangat terkejut dan bilang 'ini bangus banget !! Gimana caranya? Bikin foto yang latar belakangnya bisa ngeblur?' lalu temannya itu hanya berkata 'bisalah kamera poket seperti ini?'

Nah, barusan ini adalah sebuah kejadian yang pasti sedang banyak dialami oleh anak-anak jaman sekarang. Bagaimana tidak? Kamera DSLR yang dulunya hanya dimiliki oleh orang orang penghoby fotografi sekarang malah menjadi 'mainan' bagi anak anak seumuran SMA, bahkan ada yang masih SMP. 'dunia sudah berubah' kata orang orang tua jaman sekarang.

Pada jaman dahulu, tidak semua orang ingin membeli kamera. Bahkan, mungkin hampir semuanya menolak jika di suruh menggunakan kamera. Maklum, jaman dahulu tidak seperti sekarang. Ketika jaman kamera film, uang yang harus dikeluarkan oleh seorang fotografer jauh lebih banyak daripada sekarang. Mengapa? Karena jaman dulu memakai film. Dan pemakaian film ada batasnya. Tidak seperti kamera digital yang bisa langsung melihat hasil, jika jelek langsung hapus. Jaman dahulu, fotografi adalah sesuatu yang membuat 'penasaran'. Kenapa tidak? Sebab kamu tak pernah tahu hasil fotomu seperti apa jika belum kamu cetak. Sehingga, saat saat paling mendebarkan adalah ketika kau berdiri ditempat pencuncian film dan membuka kertas berisi kumpulan foto fotomu yang sudah di cetak. Kalo bagus, ya di simpan, kalau jelek? Dibuang? Eman. Mahal.

Lalu, pada jaman kamera film, segalanya masih manual. Pengaturan titik fokus, diagframa, shutter harus di lakukan dengan manual. Jaman itu, belum ada yang namanya tombol P atau A. Sehingga, orang jaman dahulu, untuk bisa menghasilkan foto yang bagus, harus jatuh bangun. Sekarang? Hanya butuh beberapa menit untuk memahami kamera. Kita sudah bisa menghasilkan foto yang bagus. Dengan eksposure yang pas. Tidak over dan tidak under.

Karena perbedaan yang sangat mencolok itu, kini kamera film di tinggalkan. Semua sudah beralih ke dunia digital. Beruntunglah kalian, para pembaca yang lahir dalam dunia digital ini. Segalanya serba praktis dan ekonomis. Namun, karena gampangnya memakai kamera, kini banyak muncul para fotografer2 muda yang sudah berani memasang tarif untuk hasil jepretan mereka. Yang mengesalkan, tarif mereka jauh di bawah dengan tarif para generasi tua. Membuat harga dari sebuah 'foto' menjadi turun dan terjun bebas.

Beginilah, era globalisasi. Tidak memandang umur dan siapa. Kamera adalah sebuah barang yang pasaran. Tolak ukur gengsi dan eksis. Sungguh ironi. Tapi, aku yakin gak semua fotografer muda seperti itu. Fotografer sejati adalah orang yang tidak menaruh kamera mereka untuk di pajang, tapi untuk di pakai. Bukan untuk sekedar bergaya, tapi untuk belajar. Belajar menciptakan keindahan dari sebuah momen yang tak bergerak diatas kertas.

Regards,
Arya


Sent from my iPhone

The monkey and the cage

What do you looking at?

Between fast and simple.

On the left is Kanita.
My best.

Sent from my iPhone

The Old and The Train

Perjalananku masih jauh, aku tidur dulu.

The Old and The Train

Perjalananku masih jauh, aku tidur dulu.

Alone.

Whenever it seems like you have no one to talk to, that's the time when God wants you to talk to Him.

Crazy Square Postcard

It's Sunshine.

Judulnya sih bahasa Inggris, tapi isinya bahasa Indonesia. Maklum, mau pake bahasa Inggris kok males (gak bisa) gara2 nih otak klo di pake mikir lagi mau leleh rasanya.

Sunshine, a beatiful name isn't? Not like Summer, she's more kind, more smile, but difficult to being mine. Yeah, i love her. But, the point is i think she doesn't love me. Hurts.

Udah ah pake bahasa Inggrisnya. Capek tau mikirnya. <-->

Ya intinya seperti itu. Klo DEWA 19 bilang 'cinta bertepuk sebelah tangan' aku boleh bilang ini 'cinta bertepuk sebelah bego, bodo, gila' kenapa? Ya aku bodo bego gila yang mau sampe skrg masih stick di dia. Dia yg gak menginginkan aku menjadi suaminya (muluk banget sih aku ngarepinnya) preet!! xD

Gak tau lah, namanya juga suka. Bukan berarti tai kucing bisa jadi rasa coklat lho ya!! Klo sampe ada orang yg setuju dengan argumen tai kucing bisa jadi rasa coklat, aku yakin itu orang 100% mengalami gangguan penciuman. *sniff *sniff

Sudah ah, repot mbahas yg namanya suka. Lihat aja dengan waktu. Semoga saja ini hanya 'suka' biar gampang lupa. Tapi klo ternyata aku 'cinta' ya berarti berbahagialah dia.

Ehm, sudah malam. Aku mau tidur. Tidur itu enak, kalo gak ada yg dipikirkan. Coba ada tombol standby di kepala, pasti enak.
Oke, malam semua.

Note: ternyata aku cinta dia.

Salam. Arya.

Love is ....

LOVE takes time, it needs a history of giving and receiving.

LOVE is the joy that makes people smile.

LOVE is easy to feel but so hard to explain, easy to spell but hard to define.

LOVE is not created by words but by feelings.

LOVE is not how you forget but how you forgive, not how you listen but how you understand, not what you see but what you feel, not how to let go but to hold on.

(unknown)

PROLOG

Wanita itu terkejut. Pria yang di cintainya tak ada di sampingnya pagi ini. Ia bingung, harus kemana mencari lelaki itu. Di pojok tempat tidur model eropa itu, terdapat sepucuk surat. Wanita itu lantas membuka nya dan setelah membacanya ia menangis.

Sayang,

Aku pergi.

Aku tidak mencintaimu.

Aku cinta Bimo.

Aku cinta kumis dan rambutnya.

Maaf. Maafku dengan hati.

Love,
Ardan.

Dream is a part of memory?

Well, now it is a friday. Fuckin' friday i say. Why? Because today i feel so dummy sleepy. Dummy. Dumi dum bi dam dubi dubi dam..... Errr, is it a jingle or something? Ah never mind. I was joking.

Dream? Ouch!
I 'see' her again in my dream. A long time dreaming, and i'm with her again?? I dunno, its just like running from an ugly pitbull and after u see backward it's not shown up, you feel easy but actually it just sitdown front after you. Waiting to bite, raaawrrrrrr!!!!!

Yes, i dreamed about her again. About her voice. Yes, i think i'v been forgotten her voice, but in my dream i just listen what she say, and that's true, its her voice. Damn. Damn. Shit damn. What is 'damn' mean? It is a good phrase? Or what?

The point is. I want to forget her. But, it is impossible if she just come on my dream, stealing the key of my memories and open the box. Love past box. Damn (again). Maybe i must smash my head, hope the box will come out and i can break it with hammer and throw it into the sea. I wish i could. Okay, thats it. I hope today will be a nice day.

PS: i love VR. Not her.

Regards, Arya.

The Tourist

Nah, film ini pertama kali liat posternya langsung suka. Kenapa? Karena ada homoanku disitu si johny deep (aku cuma bercanda).

Film ini, awalnya di suguhi penampang Angelina Jolie, dan alur ceritanya gampang dimengerti. Suitable buat yang males mikir klo lagi nonton film. Yah, dalam film ini diajarkan cinta akan pangan pertama. Romantis, sebab lokasi nya ada di venesia. Dan, film ini bagus. Dengan ending yg mengejutkan. Aku memberi nilai 3,8 dari 5 untuk film ini. Dan yg belum nonton, segera tonton.

Gengsi atau Butuh?

Manusia jaman sekarang, khususnya mulai akhir2 ini mulai individual. Yah, contohnya saja ketika mereka sedang menunggu antrian atm, atau sedang duduk terdiam bersama teman2 nya pasti ada orang yg gak henti2nya memandangi sebuah benda sebesar kepalan tangan dan mempunyai tombol banyak semacam querty. Apa itu? Sudah jelas kalian pasti tau. BB. Barang Busuk. Eh? Blackberry maksudku. Kata2 barusan tadi aku hanya bercanda, jangan dimasukkan hati.

Oke, BB atau blackberry sudah menjadi pemandangan umum, ada yg telanjang, ada yg berkondom, ada yg bersilikon. Orang muda, tua, nenek, kakek, adek, mas, abang, eneng semua pake. Tapi, apakah mereka sudah menggunakan BB itu secara maksimal? Atau mungkin hanya sebagai alat untuk menabur seksian? Eh gengsian?

Pernah, aku bertemu dengan kawanku ketika masih SD dulu. Aku lupa namanya (dan wajahnya) tiba2, dia datang lalu bilang 'eh pin mu brp??' aku berpikir secepat kilat 'ini siapa?kenal aja enggak minta pin, pin atm?? Atau mungkin mau minta pin kartu indomaret yg biasanya aku gunakan untuk membeli softex mantan?atau apa?' yah itu hanya di pikiranku. Actually aku menjawab 'aku gak pake BB'. Eh dia langsung bertanya dan terheran2 knapa aku gak pake BB. Wah, emang semua orang harus punya BB ya? BB itu mahal om. Klo aku udah kerja, berpenghasilan cukup dan aku membutuhkan sesuatu yg 'semua ada di genggaman' ya baru aku beli. Untuk saat ini? Ah, aku belum perlu. Dan mungkin sesedikit orang juga setuju padaku. Atau mungkin pura2 setuju karena semua ini hanya sandiwara? Mungkin juga si Ahmad Albar setuju. Dia pake BB jua gak sih? Ntar aku tanyain. Eh, kok jadi nyambung ke Ahmad Albar sih? Siapa dia? Penyanyi bukan?

Ya, intinya, BB itu gengsi aau butuh ya tergantung orangnya. Dan klo bagi orang itu BB bermanfaat ya berarti berguna. Tapi klo BB cuma buat alat penunjang gaya hidup, ya lain lagi critanya.

Cukup, sampai sini dulu ngocehanku. Ini juga sekalian merupakan tulisanku yg pertama di blog baru ini. Rumah baru, muka baru, anak baru (eh?) aku cuma bercanda.

Salam,

Arya Duta Padma.

PS: I love VR.