Selasa, 25 Januari 2011

Sunsets

Taken at Tunjungan Plaza Parking Lot.

Sent from my iPhone

Senin, 24 Januari 2011

"May I miss something?"

Sent from my iPhone

Kamera kini adalah barang pasaran. Dulu?

Ada seorang anak SMA melihat temannya menenteng kamera berjenis DSLR. Si bocah tersebut lantas bertanya kepada temannya, buat apa membeli kamera yang mahal? Apa gak cukup dengan kamera poket? Pertanyaan itu dilontarkan dengan tegasnya. Lalu, temannya itu si empunya kamera DSLR dengan tenangnya memperlihatkan hasil foto nya. Si bocah SMA tadi sangat terkejut dan bilang 'ini bangus banget !! Gimana caranya? Bikin foto yang latar belakangnya bisa ngeblur?' lalu temannya itu hanya berkata 'bisalah kamera poket seperti ini?'

Nah, barusan ini adalah sebuah kejadian yang pasti sedang banyak dialami oleh anak-anak jaman sekarang. Bagaimana tidak? Kamera DSLR yang dulunya hanya dimiliki oleh orang orang penghoby fotografi sekarang malah menjadi 'mainan' bagi anak anak seumuran SMA, bahkan ada yang masih SMP. 'dunia sudah berubah' kata orang orang tua jaman sekarang.

Pada jaman dahulu, tidak semua orang ingin membeli kamera. Bahkan, mungkin hampir semuanya menolak jika di suruh menggunakan kamera. Maklum, jaman dahulu tidak seperti sekarang. Ketika jaman kamera film, uang yang harus dikeluarkan oleh seorang fotografer jauh lebih banyak daripada sekarang. Mengapa? Karena jaman dulu memakai film. Dan pemakaian film ada batasnya. Tidak seperti kamera digital yang bisa langsung melihat hasil, jika jelek langsung hapus. Jaman dahulu, fotografi adalah sesuatu yang membuat 'penasaran'. Kenapa tidak? Sebab kamu tak pernah tahu hasil fotomu seperti apa jika belum kamu cetak. Sehingga, saat saat paling mendebarkan adalah ketika kau berdiri ditempat pencuncian film dan membuka kertas berisi kumpulan foto fotomu yang sudah di cetak. Kalo bagus, ya di simpan, kalau jelek? Dibuang? Eman. Mahal.

Lalu, pada jaman kamera film, segalanya masih manual. Pengaturan titik fokus, diagframa, shutter harus di lakukan dengan manual. Jaman itu, belum ada yang namanya tombol P atau A. Sehingga, orang jaman dahulu, untuk bisa menghasilkan foto yang bagus, harus jatuh bangun. Sekarang? Hanya butuh beberapa menit untuk memahami kamera. Kita sudah bisa menghasilkan foto yang bagus. Dengan eksposure yang pas. Tidak over dan tidak under.

Karena perbedaan yang sangat mencolok itu, kini kamera film di tinggalkan. Semua sudah beralih ke dunia digital. Beruntunglah kalian, para pembaca yang lahir dalam dunia digital ini. Segalanya serba praktis dan ekonomis. Namun, karena gampangnya memakai kamera, kini banyak muncul para fotografer2 muda yang sudah berani memasang tarif untuk hasil jepretan mereka. Yang mengesalkan, tarif mereka jauh di bawah dengan tarif para generasi tua. Membuat harga dari sebuah 'foto' menjadi turun dan terjun bebas.

Beginilah, era globalisasi. Tidak memandang umur dan siapa. Kamera adalah sebuah barang yang pasaran. Tolak ukur gengsi dan eksis. Sungguh ironi. Tapi, aku yakin gak semua fotografer muda seperti itu. Fotografer sejati adalah orang yang tidak menaruh kamera mereka untuk di pajang, tapi untuk di pakai. Bukan untuk sekedar bergaya, tapi untuk belajar. Belajar menciptakan keindahan dari sebuah momen yang tak bergerak diatas kertas.

Regards,
Arya


Sent from my iPhone

The monkey and the cage

What do you looking at?

Between fast and simple.

On the left is Kanita.
My best.

Sent from my iPhone

The Old and The Train

Perjalananku masih jauh, aku tidur dulu.

The Old and The Train

Perjalananku masih jauh, aku tidur dulu.

Alone.

Whenever it seems like you have no one to talk to, that's the time when God wants you to talk to Him.

Crazy Square Postcard

It's Sunshine.

Judulnya sih bahasa Inggris, tapi isinya bahasa Indonesia. Maklum, mau pake bahasa Inggris kok males (gak bisa) gara2 nih otak klo di pake mikir lagi mau leleh rasanya.

Sunshine, a beatiful name isn't? Not like Summer, she's more kind, more smile, but difficult to being mine. Yeah, i love her. But, the point is i think she doesn't love me. Hurts.

Udah ah pake bahasa Inggrisnya. Capek tau mikirnya. <-->

Ya intinya seperti itu. Klo DEWA 19 bilang 'cinta bertepuk sebelah tangan' aku boleh bilang ini 'cinta bertepuk sebelah bego, bodo, gila' kenapa? Ya aku bodo bego gila yang mau sampe skrg masih stick di dia. Dia yg gak menginginkan aku menjadi suaminya (muluk banget sih aku ngarepinnya) preet!! xD

Gak tau lah, namanya juga suka. Bukan berarti tai kucing bisa jadi rasa coklat lho ya!! Klo sampe ada orang yg setuju dengan argumen tai kucing bisa jadi rasa coklat, aku yakin itu orang 100% mengalami gangguan penciuman. *sniff *sniff

Sudah ah, repot mbahas yg namanya suka. Lihat aja dengan waktu. Semoga saja ini hanya 'suka' biar gampang lupa. Tapi klo ternyata aku 'cinta' ya berarti berbahagialah dia.

Ehm, sudah malam. Aku mau tidur. Tidur itu enak, kalo gak ada yg dipikirkan. Coba ada tombol standby di kepala, pasti enak.
Oke, malam semua.

Note: ternyata aku cinta dia.

Salam. Arya.

Love is ....

LOVE takes time, it needs a history of giving and receiving.

LOVE is the joy that makes people smile.

LOVE is easy to feel but so hard to explain, easy to spell but hard to define.

LOVE is not created by words but by feelings.

LOVE is not how you forget but how you forgive, not how you listen but how you understand, not what you see but what you feel, not how to let go but to hold on.

(unknown)

PROLOG

Wanita itu terkejut. Pria yang di cintainya tak ada di sampingnya pagi ini. Ia bingung, harus kemana mencari lelaki itu. Di pojok tempat tidur model eropa itu, terdapat sepucuk surat. Wanita itu lantas membuka nya dan setelah membacanya ia menangis.

Sayang,

Aku pergi.

Aku tidak mencintaimu.

Aku cinta Bimo.

Aku cinta kumis dan rambutnya.

Maaf. Maafku dengan hati.

Love,
Ardan.

Dream is a part of memory?

Well, now it is a friday. Fuckin' friday i say. Why? Because today i feel so dummy sleepy. Dummy. Dumi dum bi dam dubi dubi dam..... Errr, is it a jingle or something? Ah never mind. I was joking.

Dream? Ouch!
I 'see' her again in my dream. A long time dreaming, and i'm with her again?? I dunno, its just like running from an ugly pitbull and after u see backward it's not shown up, you feel easy but actually it just sitdown front after you. Waiting to bite, raaawrrrrrr!!!!!

Yes, i dreamed about her again. About her voice. Yes, i think i'v been forgotten her voice, but in my dream i just listen what she say, and that's true, its her voice. Damn. Damn. Shit damn. What is 'damn' mean? It is a good phrase? Or what?

The point is. I want to forget her. But, it is impossible if she just come on my dream, stealing the key of my memories and open the box. Love past box. Damn (again). Maybe i must smash my head, hope the box will come out and i can break it with hammer and throw it into the sea. I wish i could. Okay, thats it. I hope today will be a nice day.

PS: i love VR. Not her.

Regards, Arya.

The Tourist

Nah, film ini pertama kali liat posternya langsung suka. Kenapa? Karena ada homoanku disitu si johny deep (aku cuma bercanda).

Film ini, awalnya di suguhi penampang Angelina Jolie, dan alur ceritanya gampang dimengerti. Suitable buat yang males mikir klo lagi nonton film. Yah, dalam film ini diajarkan cinta akan pangan pertama. Romantis, sebab lokasi nya ada di venesia. Dan, film ini bagus. Dengan ending yg mengejutkan. Aku memberi nilai 3,8 dari 5 untuk film ini. Dan yg belum nonton, segera tonton.

Gengsi atau Butuh?

Manusia jaman sekarang, khususnya mulai akhir2 ini mulai individual. Yah, contohnya saja ketika mereka sedang menunggu antrian atm, atau sedang duduk terdiam bersama teman2 nya pasti ada orang yg gak henti2nya memandangi sebuah benda sebesar kepalan tangan dan mempunyai tombol banyak semacam querty. Apa itu? Sudah jelas kalian pasti tau. BB. Barang Busuk. Eh? Blackberry maksudku. Kata2 barusan tadi aku hanya bercanda, jangan dimasukkan hati.

Oke, BB atau blackberry sudah menjadi pemandangan umum, ada yg telanjang, ada yg berkondom, ada yg bersilikon. Orang muda, tua, nenek, kakek, adek, mas, abang, eneng semua pake. Tapi, apakah mereka sudah menggunakan BB itu secara maksimal? Atau mungkin hanya sebagai alat untuk menabur seksian? Eh gengsian?

Pernah, aku bertemu dengan kawanku ketika masih SD dulu. Aku lupa namanya (dan wajahnya) tiba2, dia datang lalu bilang 'eh pin mu brp??' aku berpikir secepat kilat 'ini siapa?kenal aja enggak minta pin, pin atm?? Atau mungkin mau minta pin kartu indomaret yg biasanya aku gunakan untuk membeli softex mantan?atau apa?' yah itu hanya di pikiranku. Actually aku menjawab 'aku gak pake BB'. Eh dia langsung bertanya dan terheran2 knapa aku gak pake BB. Wah, emang semua orang harus punya BB ya? BB itu mahal om. Klo aku udah kerja, berpenghasilan cukup dan aku membutuhkan sesuatu yg 'semua ada di genggaman' ya baru aku beli. Untuk saat ini? Ah, aku belum perlu. Dan mungkin sesedikit orang juga setuju padaku. Atau mungkin pura2 setuju karena semua ini hanya sandiwara? Mungkin juga si Ahmad Albar setuju. Dia pake BB jua gak sih? Ntar aku tanyain. Eh, kok jadi nyambung ke Ahmad Albar sih? Siapa dia? Penyanyi bukan?

Ya, intinya, BB itu gengsi aau butuh ya tergantung orangnya. Dan klo bagi orang itu BB bermanfaat ya berarti berguna. Tapi klo BB cuma buat alat penunjang gaya hidup, ya lain lagi critanya.

Cukup, sampai sini dulu ngocehanku. Ini juga sekalian merupakan tulisanku yg pertama di blog baru ini. Rumah baru, muka baru, anak baru (eh?) aku cuma bercanda.

Salam,

Arya Duta Padma.

PS: I love VR.