Hari ini, hari Selasa. Hari yang baik untuk melakukan sesuatu yang baru pikirku. Tapi apa ya? Sesuatu yang baru, sesuatu yang sebelumnya tidak aku pikirkan dan tidak aku perhatikan dengan baik. Hm, kemudian aku melihat jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 11.38 AM. Yah, sudah siang. Aku terdiam, kembali melihat jam dan berpikir 'oh iya, aku kan pingin punya jam tangan baru' yah, segampang pikiranku terucap seperti itu, padahal keuangan sedang susah. Yah, keuanganku bulan ini sangat tertekan.
'Dipta, ayo kita lihat-lihat jam' kataku pada Dipta dari depan rumahnya. Kemudian aku menyuruhnya memakai sepatu. Kenapa pakai sepatu? Iya, untuk memberikan kesan sopan dan berkelas ketika kami masuk ke sebuah toko arloji berkelas.
Sampailah kami pada toko yang di judulkan TIME PALACE. Dengan balutan karpet dan sekalilinh warna emas, sudah jelas terlihat bahwa itu bukan tempat sembarangan yang bisa dimasuki oleh seorang mahasiswa gembel seperti aku.
Rolex, adalah jam yang pertama aku tanyakan. Yah, aku kenal jam tangan bermerek Rolex dari mendiang Ayahku. Maklum, Ayahku suka dengan 'kekaleman' dari jam tersebut. Dan memang bagus kualitasnya. Bagus juga harganya.
85 juta. Adalah jawaban dari pertanyaan 'berapa harga jam Rolex GMT MASTER II ini?' sungguh jawaban yang lembut namun menusuk. Menusuk dompet. Yah, sebenarnya tidak kaget, tapi dengan posisi hanya membawa yang 75ribu di dompet dan di berikan jawaban seperti itu, layaknya seseorang pengemis di suruh membeli sebuah mobil. GILA. Mahal.
Kemudian, langkah kami menuju stan Tag-Heuer, sebuah merek jam terkemuka. Seperti Rolex, Tag-Heuer juga mahal!! Sepertinya jam jam yang ada di Time Palaca bukanlah jam yang cocok untuk kami (baca: dompet). Kami hanya bisa melihat dan memegangnya untuk sebentar. Untuk mencoba di pergelangan tangan aja sungkan. Takut kulit kami yang kotor menodai jam tersebut (ini sepertinya alay).
Lalu, Dipta dan aku keluar dan mencari jam yang 'masuk' dalam hitungan dompet kami. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Delta Plaza dan masuk ke toko arloji bermerek SEIKO.
Sekedar melihat lihat, banyak jenis yang ada di toko itu, mulai yang harganya 1 juta sampai paling mahal 26 juta. Cukup masuk akal kan daripada Time Palace yang memberikan harga untuk sebuah arloji sama dengan harga sebuah motor Ninja 250R. Mending beli motor, besar, bisa di naikin, bisa di nikmati berdua sama pacar. Kalo punya pacar sih.
Oke, setelah memiliah milah mana yang bagus, aku terpaku pada sebuah jam SEIKO jenis classic. Yah, jam yang indah, si balut dengan pergelangan kulit, mekanik, dan pengaturan jam serta tanggal yang otomatis. Harganya? 5.380.000 rupiah. Sungguh masuk akal dan iya aku jatuh cinta dengan jam tersebut. Pingin beli, tapi hanya dengan uang 75 ribu sepertinya mustahil. Akhirnya, aku mengurungkan niat untuk membeli dan menunggu uang terkumpul atau bila ada kemujuran, Ibuku akan membelikannya untukku (sungguh, untuk ini, aku berkata AMIN)
Bagiku, jam tangan adalah perhiasan laki-laki dan akan selamanya bagus. Tidak akan pudar oleh waktu. Secanggih-canggihnya jam tangan, kita hanya akan melihatnya semala 3 detik, hanya untuk melihat jam berapakah saat itu. Nothing more and nothing less.
Ketika sampai rumah, aku tersadar. Jika kita menjadi jam tangan, seindah apapun, walaupun kita melekat di tangan pemilik kita. Kita hanyalah di liat sejenak, kemudian di lupakan. Seperti aku, yang dilupakan oleh nya.
Tertanda,
Arya Duta Padma